• Senin, 5 Desember 2022

Pers Papua Versus Media Sosial

- Rabu, 29 November 2017 | 21:36 WIB
CAKRAWALA, JAYAPURA – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Papua Abdul Munib menilai era digital saat ini dapat menggantikan tugas profesi jurnalis pada era digital. “Kini telepon celuler menyajikan informasi dan perkembangan berita terkini di Republik ini,” ungkap Munib saat memberikan sambutan dalam Coffe Morning dengan Pendam XVII/Cenderawasih di Pendopo Golf Kodam, Rabu (29/11). Di jelaskannya, perkembangan media sosial yang makin pesat memaksa jurnalis mencari pekerjaan sampingan. Belum lagi produk jurnalisme warga yang tidak terkontrol di dunia maya dapat diakses bebas. “Profesi wartawan bukan menjadi pekerjaan utama seperti dahulu. Teknologi sekarang sudah canggih mengalahkan pena, saya pun menyarankan para jurnalis mencari pekerjaaan sampingan, bisa berkebun atau membuka kios,” kata Munib. Munib menilai, telepon celuler mampu menghancurkan perusahaan pers dan menekan perusahaan kamera, kalkulator, perusahaan travel atau jasa transportasi hingga hiburan. “Prodak perusahaan yang saya katakana tadi, kini ada di ponsel genggam, apalagi kamera rool mungkin sudah hilang dari peredaran,” ujarnya. Sementara itu menurut Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Papua Meirto Tangkepayung, jurnalis televisi khususnya kontributor di Papua harus lebih profesional dalam menjalankan tugas peliputan di lapangan, karena saat ini media sosial sudah tak bisa lagi di bendung. “Kalau soal kecepatan, saat ini kami sudah kalah dari media sosial, kami baru mendapat info terkait adanya peristiwa, para pemakai medsos sudah live duluan, yang harus kita lakukan adalah memgemas berita tersebut dengan baik dan lebih mendalam, tampilkan informasi yang jelas sesuai fakta untuk mencounter berita di medsos soal peristiwa tersebut” ungkap Nugie, sapaan akrap Meirto. Nugie juga meminta kepada teman teman jurnalis televisi di Papua agar tetap menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan berpegang teguh pada Undang Undang Pers no 40 dalam menjaankan tugas peliputan. “Apa pun alasan nya kita sebagai wartawan harus tetap profesional, jangan lupa akan kode etik kita sebagai jurnalis televisi dan ingat kita bekerja di lindungi oleh Undang-undang” tegas Nugie. Sementara itu, Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan, coffe morning ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antara TNI dan jurnalis. “ Peran Media sangat penting dalam membentuk opini masyarakat di Papua,” katanya. (NugMTP)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X