• Sabtu, 23 September 2023

Anak Menteri Yasonna Laoly Membantah Monopoli Binsis di Lapas

- Jumat, 5 Mei 2023 | 07:14 WIB
Yamitema Laoly (Tangkapan layar/Fajar.co)
Yamitema Laoly (Tangkapan layar/Fajar.co)

JAKARTA, CAKRAWALA.CO,- Anak Menteri Yasonna Laoly, Yamitema Laoly, selaku founder Yayasan Jeera membantah melakukan monopoli bisnis di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan).

Penegasan itu dilakukan untuk membantah tudingan bahwa pihaknya memanfaatkan ayahnya untuk bisnis di Lapas.

Alasannya, karena selain yayasan yang dipimpinnya, masih banyak yayasan lain yang bekerjasama dengan Lapas dalam rangka membina anak binaan agar setelah keluar nanti menjadi baik.

Baca Juga: Menteri Yasona Digoyang Lantaran Anaknya Monopoli Bisnis Lapas

Sebelumnya dalam perbincangan di kanal Youtube Tio Pakusadewo dengan Uya Kuya TV mengungkap keterlibatan yayasan maupun perusahaan yang terafiliasi dengan Jeera Foundation milik Yamitema Laoly dalam bisnis di lapas, mulai dari katering hingga air minum kemasan.

“Tudingan itu tidak benar sama sekali. Saya merasa heran dengan tuduhan melakukan monopoli bisnis, karena di dalam lapas ada banyak yayasan dan organisasi yang bekerja sama dengan pihak lapas. Jadi saya juga heran dengan tudingan monopoli bisnis di dalam lapas. Dasarnya apa? Karena sepengetahuan saya ada beberapa lembaga yang bekerja sama dengan pihak lapas,” ujar Yamitema kepada wartawan, Kamis (4/5).

Baca Juga: Karutan Cipinang Tepis Pernyataan Aktor Tio Pakusadewo

Pimpinan Yayasan Jeera, Raden Gusti, menjelaskan pembentukan yayasan ini berawal dari semangat membina para narapidana supaya bisa mengembangkan diri. Baik itu aspek keahlian, jati diri, dan kemampuan setelah bebas.

“Saat itu, Yamitema diundang salah organisasi kepemudaan yang bicara soal rencana melakukan pembinaan para napi, beliau merasa tergerak dengan semangat karena napi pasti ingin hidup lebih baik setelah keluar nanti, tapi mereka tak punya skill sehingga kami bersepakat membentuk Yayasan Jeera,” ujar Raden.

Raden mengatakan sejak dibentuk tahun 2016 lalu, ada sekitar 500 warga binaan sudah diberikan pelatihan di bidang keterampilan tas kulit, barista kopi, seni musik, barber, seni lukis, sampai membuat roti.

“Tujuannya nanti setelah selesai menjalani hukuman penjara mereka sudah mempunyai bekal keterampilan, apakah musisi, mau jadi pelukis, barista atau usaha kerajinan. Banyak dari mereka yang sudah berhasil, walau tentu tidak semua berhasil juga, tapi paling tidak Yayasan Jeera ini bisa memberikan berkontribusi bagi mereka,” jelasnya.

Raden menambahkan, yayasan melihat warga binaan sebagai orang yang bermasalah secara sosial, namun mereka harus merubah hidupnya asalkan mereka mau dididik agar tidak bermasalah lagi. Maka Yayasan Jeera hadir untuk memberikan pendidikan. (dbs/fajar) ***

Editor: Syaefurrahman Albanjary

Tags

Terkini

X