Home OPINI Ralat Ucapannya, AKP Sulman Inkonsistensi Atau Korban Intervensi ?

Ralat Ucapannya, AKP Sulman Inkonsistensi Atau Korban Intervensi ?

0
SHARE
Janur M Bagus, wartawan Penggiat Kelompok Informasi Masyarakat di Jawa Barat, foto dok

Oleh: Janur M Bagus

Tidak Tahu apa yang ada dalam hati Sulman Azis seorang perwira pertama Polisi berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) yang sempat viral disejumlah media sosial dan media mainstream gara-gara testimoninya dalam sebuah presscon di kantor salah satu Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta terkait netralitas institusi tempat dirinya mengabdi.

Dalam testimoninya Sulman sempat menduga jika institusi Polri tempatnya bernaung telah terkontaminasi oleh virus ketidak netralan dalam konstalasi pemilu 2019 dengan indikasi dukungan kepada Paslon Capres/Cawapres bernomor 01 Jokowi-Ma’ruf.

Sontak saja pernyataan tersebut sempat membelah opini publik dengan berbagai penafsiran liar yang berkecamuk di jagat maya maupun di tengah-tengah rumpun warga masyarakat yang mendadak terusik dengan statmen Sulman Azis dalam suhu politik tinggi menjelang masuk pada hari pencoblosan yang tinggal menyisakan sekitar dua pekan kedepan.

Sejumlah spekulasi opini bermunculan mulai dari kalangan pengamat politik hingga obrolan warung kopi yang tak kalah mendalam memberikan analisa masing-masing, mulai siapa sosok Sulman Azis, hingga konstalasi tingkat tinggi di korp baju cokelat tersebut dalam perhelatan politik lima tahunan ini.

Celakanya isue netralitas Polri yang kembali ditegaskan secara internal melalui surat edaran Kapolri menguatkan undang-undang yang menegaskan netralitas Polri sebagaimana tertera dalam pasal 28 Undang – Undang RI Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negera Republik Indonesia yang menjelaskan sebagai berikut :
1) Kepolisian Negara Republik Indonesia bersikap netral dalam kehidupan politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politik praktis;
2) Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia tidak menggunakan hak memilih dan dipilih;
3) Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat menduduki jabatan diluar kepolisian setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas kepolisian.

Baca Juga  Kisah Tommy Soeharto dari Buron Menuju Istana Presiden (1)

Ini memang sudah sangat jelas dan gamblang bahwa tidak boleh ada yang bermain api ditubuh Polri apapun alasannya karena itu jelas-jelas mencedrai demokrasi dan meluakai hati rakyat sebagai pemegang sedaulat daulatnya kedaulatan.

Lantas apa yang sesungguhnya terjadi dibalik testimoni AKP Sulman Azis yang mantan seorang Kapolsek di Wilayah Hukum Polres Garut, Jawa Barat…? Jelas-jelas meski umur testimoni itu hanya bertahan kurang dari 2 x 24 jam bertahan karena keburu kembali diralat dan di klarifikasi sebagai sebuah kesalahan pernyataan lantaran Sulman tersulut emosi akibat dimutasi dari jabatannya sebagai Kapolsek..??

Terserah saja semua itu haknya Sulman Azis…mana yang benar antara ungkapan atau pernyataan Sulman pertama atau pernyataan klarifikasinya, tentu saja hanya Sulman yang tahu dan Yang Maha Tahu segala hanyalah yang Maha Kuasa diatas segala Kekuasaan.

Baca Juga  Presiden Jokowi dan Hikayat Sultan Musa

Hanya saja terhadap  sikap Sulman Azis tersebut tentu bakal ada banyak persepsi terlepas apapun itu, semisal tudingan sebagai sikap Inkonsistensi atau Sulman baru saja menjadi korban Intervensi tanpajelas  siapa dan kekuatan mana yang mengintervensinya.

Sebagaimana sebelumnya banyak pihak menduga keberanian Sulman memberikan pernyataan mengejutkan tidak serta merta melainkan ada kekuatan juga yang memback up-nya…Inilah mungkin yang kemudian menjadi jawaban tersendiri betapa rapuhnya pertahanan Sulman Azis dalam mempertanggung jawabkan pernyataanya semula dengan cukup memberi alasan bahwa ia tengah emosi karena sakit hati terkena mutasi.

Sekali lagi semuanya adalah hak Sulman untuk kemudian berbicara apapun akan tetapi sebuah catatan terlanjur mengisi penuh memori publik kita, termasuk menjadi salah satu catatan kaki ditengah hiruk pikuk perhelatan politik dalam bingkai pesta demokrasi diawal tahun 2019 ini.

Bahkan sepertinya Bawaslu terlanjur telah memberikan pernyataan akan meminta keterangan Sulman sebab memang haknya Bawaslu untuk memastikan jika pernyataan Sulman sebelumnya  memberi celah untuk mengurai keberpihakan alias terjadi dugaan pelanggaran pemilu.

Baca Juga  Tito Berpeluang Dampingi Jokowi 2019

Namun secara otomatis munculnya pernyataan klarifikasi Sulman telah memadamkan asumsi awal sebagai petunjuk permulaan bagi Bawaslu, alhasil tidak akan banyak memberikan hasil apapun meski Bawaslu terus mealukan pemanggilan dan meminta keterangan Sulman.

Dahsyatnya lagi, hanya dalam hitungan 2 x24 jam pernyataan Sulman yang sempat gegap gempita dan membelah opini dua kekuatan pendukung Capres/Cawapres itu, langsung sirna seperti ditelan bumi, hembusan angin yang semula kencang menggoyangkan seluruh ranting pohon bahkan banyak pohon diprediksi tumbang, kini nyaris tak berbekas dan kembali ke persepsi semula bahwa “Polri Netral dalam Pemilu” dan memang seharusnya begitu tanpa harus dinodai adanya pernyatan kontroversi Sulman yang berujung Klatifikasi terhadap pernyataanya sendiri.

Sudahlah tak perlu gaduh lagi karena pesta segera berakhir kurang dari dua pekan kedepan sebab biasanya setelah pesta berakhir maka berakhir pula perang urat syaraf, termasuk strategi perang total juga tidak lagi menjadi opini warga kota dan akan menjadi tinggal catatan semata.***

Penulis adalah Jurnalis dan Penggiat Kelompok Informasi Masyarakat

Bagaimana menurut Anda ?

komentar