Beranda OPINI Purna Bhakti, Jabatan Puncak Seorang PNS

Purna Bhakti, Jabatan Puncak Seorang PNS

0
BERBAGI
Purna Bhakti, Jabatan Puncak Seorang PNS - image IMG-20181031-WA0022 on https://www.cakrawala.co

Oleh : Yan Agus Supianto

Dalam satu tahun sepuluh bulan ini saya telah banyak belajar dari dua sosok PNS ini. Yang satu saya telah mengambil ilmu bagaimana konsistensi memegang aturan dan satu lagi belajar bagaimana fokus kerja tanpa mengenal lelah dan keluh kesah.

Pada satu kesempatan saya mengamati dua sosok ini, alangkah beratnya pekerjaan yang segalanya ia kerjakan sendiri, kemudian saya mengistilahkannya sebagai seorang _‘single fighter’_ .
Bayangkan ketika ia harus berjibaku menyelesasikan pekerjaan yang sebenarnya cukup dikerjakan oleh seorang bawahan, namun sekali lagi, saya kagum campur sedih melihat kondisi seperti ini. Belum lagi pekerjaan ini ia kerjakan harus dihadapkan pada target yang sama sekali sulit diterima akal sehat. Mulai dari konsep perencanaan hingga eksekusi pekerjaan ia kerjakan minim bantuan orang lain. Dalam satu kesempatan saya harus turun tangan hanya karena tidak tega melihatnya mengerjakan pemasangan baliho untuk tema Ramadhan saat itu. Akhirnya kami bertiga mengerjakannya dengan penuh canda dan tawa.

Baca Juga  Tiga Pilihan Jenderal Prabowo

Dalam kesempatan lain, saya sempat keliling beberapa kecamatan hanya untuk menyebarkan majalah triwulanan yang diproduksi Dinas Kominfo Kabupaten Garut. Saya tidak habis pikir mengapa untuk urusan ini harus mengajak saya.

Belakangan baru sadar, bahwa pekerjaan membutuhkan komitmen tinggi dan kesadaran tanpa batas, meski bisa jadi hasilnya bisa dirasakan bersama, meski terkadang orang ogah untuk menjalani prosesnya.
Anis ‘Eyang’ Muhammad Fikri adalah sosok yang saya maksudkan. 31 Oktober 2018 ia sempat berpelukan dengan saya usai apel rutin pagi di lingkungan kami. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut kami, hanya gelak tawa saja. Namun, ternyata pelukan itu adalah pertemuan terakhir di karir dia sebagai PNS. Bahkan saya tidak sempat mengikuiti prosesi acara perpisahan. Ia adalah diantara 27 orang orang yang pensiun bulan November ini dan 450 orang tahun ini.
Seorang Eyang, adalah sosok pekerja keras. Kerja keras itu ia lewati dengan 11 camat yang pernah menjadi atasannya, bahkan menjadi lurah tiga kali, dan instansi lain, termasuk di Dinas Kominfo yang ia rengkuh selama tiga tahun, menjadi bukti bagaimana _tour of duty_-nya tidak bisa disanggah lagi.

Baca Juga  Libur Panjang, Situs Gunung Padang di Serbu Pengunjung

Menjelang pensiun alias purna bhakti, ia masih setia dengan pekerjaaanya dise-sela persiapan menjelang masa bhakti PNS nya berakhir. _“Lagi ngurus perijinan buat buka usaha apotek dan rumah makan padang”_, kata Anies di suatu pagi. Dua usaha itu bukan sekadar isapan jempol, mengingat ia punya putrinya lulusan Unpad yang menjadikan putrinya sebagai apoteker. Kalaupun buka usaha rumah makan padang, ia berpikir sederhana, cukup bagi hasil saja, tanpa bersusah-susah untuk memasak.
Belajar dari sosok Eyang, mungkin bagi sebagian orang akan terasa sesak di dada, saat harus menghadapi jabatan terakhir sebagai PNS. Purna Bhakti. Belum lagi power syndrome yang mungkin tidak akan dirasakan oleh Sang Anies, tapi bisa saja hinggap di sosok lain yang belum siap menghadapinya.

Baca Juga  Mukhlis Hadining Akan Gabung ke Semen Padanf fc

Anies Muhammad Fikri hanyalah contoh kecil bagi saya, alangkah naifnya ketika sang PNS si ‘pelayan seksi’ kemudian terkapar tidak berdaya nyaris tak berharga, hanya karena ia tidak meninggalkan tapak dan bekasnya saat ia berkiprah di dunia birokrasi.

Perjalanan PNS, sadar atau tidak, setuju atau tidak, memang akan mecapai dua garis finish : Purna Bhakti dan Kematian. Meski dua gelar itu akan tetap hidup harum semerbak karena meninggalkan kesan mengagumkan selama ia berkiprah. Yakinlah sisa hidup untuk beristirahat dari dunia birokrasi, akan tetap ditunggu kiprah selanjutnya di masyarakat. Selamat berkarya kembali hai sang Purna Bhakti.

*_*) Didedikasikan untuk sahabat saya : Anis Muhammad Fikri dan Djadjang Saeful Rohman_*

Bagaimana menurut Anda ?

komentar