• Jumat, 2 Desember 2022

Geliat Batik Alam Kampung Malon Semarang

- Rabu, 19 Juli 2017 | 19:35 WIB
SEMARANG, CAKRAWALA.CO - Jenuh dengan kesibukan dan hiruk pikuk kota? Pastikan untuk segarkan kembali pikiran. Jalan-jalan ke desa boleh jadi adalah pilihan yang tepat.

Apalagi sekarang banyak desa dan kampung yang mengangkat potensi khas menjadi tujuan wisata menarik. Seperti di Kota Semarang Jawa Tengah. Kampung tematik kini jadi unggulan. Satu diantaranya ada di kecamatan Gunungpati. Namanya Kampung Alam Malon.

Selain kaya dengan hasil alam seperti buah-buahan, warga di sini juga menggali potensi di bidang kerajinan batik alam. Disebut begitu karena para perajin menggunakan bahan-bahan alami sebagai pewarna batik. Sehingga limbahnya tidak akan mencemari lingkungan sekitar. Begitu juga dengan motif batik-nya yang . terinspirasi dari bentuk-bentuk alam sekitar. Lalu dituangkan dalam goresan canting di atas kain, dan menjadi batik khas Kampung Malon.

motif alam sekitar jadi andalan batik malon (foto: omjk)

Menurut salah satu pegiat batik di kampung malon gunung pati, Pak Heno (55), saat ini konsep go green sudah menjadi gaya hidup masyarakat. Batik ramah lingkungan pun menjadi pilihan para perajin.

“Produksi di kampung kita ini, menggunakan bahan alam sekitar. Nah, kita juga melibatkan petani untuk mengolah bahan warna yang kita jadikan untuk mewarnai kain,” jelas Pak Heno.

Hal ini diamini oleh Imroah (45), ibu rumah tangga yang aktif mengikuti kegiatan membatik di Kampung Malon. Menurutnya, bahan alami sangat ramah lingkungan dan sangat gampang didapat.

“Contohnya kulit mahoni, kulit manggis, jelawe, mangrove, tingi, dan serat kayu secang. Masing-masing punya karkater warna tersendiri. Dibandingkan pewarna buatan pabrik, bahan alam memberi nunasa yang lebih kalem,” tuturnya.

-
Bahan alam untuk pewarna batik. (foto: omjk)

Geliat batik di Kampung Malon bisa dibilang memang belum lama. Warga terinspirasi oleh potensi alam di sekitar mereka. Sebab, kawasan perbukitan di Gunung Pati memang menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan. Seperti goa kreo, Waduk Jatibarang, agrowisata buah-buahan, serta pemancingan. Sehingga Kampung Malon pun ikut bersolek. Salah satunya dengan mengangkat batik tradisional sebagai wisata kerajinan.

Ada banyak kelompok batik di kampung ini. Masing-masing menampung sepuluh hingga dua puluh warga. Mereka kemudian diberi pelatihan, sampai bisa memproduksi batik khas kampung malon.

“Setelah mengikuti pelatihan, kita ingin bisa menghasilkan produk yang mencerminkan ciri Kampung Malon. Maka motif batik yang dibuat lebih banyak bentuk flora dan fauna. Seperti buah dan daun asam, serta burung kuntul. Tapi ada juga batik yang mengangkat ikon kota Semarang. Seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, dan lain-lain,” jelas Imroah.

-
Ibu-ibu sedang berlatih membatik. (foto: omjk)

Proses membatik di kampung malon lebih mengutamakan cara menulis dengan canting atau menggunakan alat cap. Cara ini lebih familiar bagi warga desa, terutama bagi mereka yang mulai untuk belajar batik. Bahan baku dan peralatan juga lebih murah dan gampang didapatkan. Meski memang, prosesnya lebih lama dan detil. Tapi hasil yang didapat lebih berseni karena benar-benar menggunakan ketrampilan untuk membuatnya.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Eksotisme Tahura Lae Kombih

Minggu, 16 Oktober 2022 | 23:02 WIB

Sail Tidore Bakal Jaring 50 Ribu Wisatawan

Rabu, 12 Oktober 2022 | 14:56 WIB

Novavil Travel Haji dan Umroh buka Biro-Agen di Halsel

Kamis, 22 September 2022 | 13:30 WIB

Lebih Produksi dengan Internet

Kamis, 2 Desember 2021 | 22:19 WIB
X