• Jumat, 9 Desember 2022

Monopoli Kargo Maskapai Penerbangan dan Kaitannya dengan Etika Bisnis

- Jumat, 10 Desember 2021 | 10:26 WIB
Kargo pesawat (dok)
Kargo pesawat (dok)

Monopoli Kargo Maskapai Penerbangan dan Kaitannya dengan Etika Bisnis Oleh: Azzahra Raina Saad (Mahasiswi Ilmu Administrasi Niaga di Universitas Indonesia). Latar Belakang Dalam pelaksanaan suatu bisnis, selain mengutamakan keuntungan, sebuah perusahaan memiliki berbagai tanggung jawab kepada masyarakat dan lingkungan tempat perusahaan tersebut beraktivitas. Suatu bisnis perlu memastikan setiap proses bisnis yang dilakukan bersih dari perbuatan curang dan hal-hal yang melanggar hukum. Untuk menghindari dan memiliki landasan dalam setiap prosesnya bisnis memiliki Etika Bisnis yang dapat diterapkan. Dengan etika bisnis suatu bisnis dapat mengatur etika moral yang diterapkan dan tumbuh dalam perusahaan. Menurut Kasali, et al., pada tahun 2010, lalu ditambah dengan pendapat Albra, et al., pada tahun 2019 terdapat beberapa unsur yang perlu diperhatikan untuk menjadikan suatu bisnis dapat dikatakan etis. Unsur-unsur tersebut secara lebih spesifik adalah kejujuran, integritas, memenuhi janji, kesetiaan, keadilan, tolong menolong, bertanggung jawab, menghormati, mengejar keunggulan,  dan dapat dipertanggungjawabkan. Praktik bisnis harus etis dan berkewajiban untuk tidak merugikan pemangku kepentingan yang ada. Tidak hanya itu, praktik bisnis yang sehat tidaklah melakukan suatu bentuk kecurangan yang dapat merugikan pesaing industrinya dan para konsumen. Salah satu bentuk kecurangan yang juga melanggar hukum persaingan usaha adalah tindakan Monopoli.   Apa Itu Monopoli? Di dalam bisnis, persaingan merupakan sebuah hal yang lumrah dilakukan oleh pelaku bisnis, Persaingan ini dilakukan para pelaku bisnis untuk menunjukan keunggulan dari produk yang mereka hasilkan sehingga konsumen bisa tertarik untuk memilih produk mereka dibanding produk yang dihasilkan oleh pesaing mereka. Persaingan ini juga dilakukan untuk meningkatkan keuntungan yang dihasilkan sehingga perusahaan bisa mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Monopoli sebagai bentuk persaingan tidak sehat dengan dikuasainya suatu produk/jasa yang dapat merugikan berbagai pihak. Pada dasarnya persaingan bertujuan untuk mendesentralisasi kekuatan ekonomi agar tidak berpusat pada satu pelaku usaha saja, namun monopoli justru bersifat sebaliknya yaitu hanya memusatkan kekuatan ekonomi pada sekelompok pelaku usaha saja. Monopoli sangat tidak diperbolehkan untuk dilakukan dalam sistem perekonomi di Indonesia, hal ini dikarenakan perusahaan dapat mengendalikan pemasaran serta menentukan harga maupun pasokan barang dengan monopoli. Monopoli akan sangat mudah terjadi pada sistem ekonomi yang terbuka, namun monopoli tidak selalu timbul karena adanya liberalisasi ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah membutuhkan peraturan yang dapat mengatur tentang permasalahan monopoli sehingga penyediaan barang dan jasa dapat dikendalikan. Dalam hal ini pemerintah Indonesia mengatur monopoli dalam undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.   Apa itu Etika Bisnis? Etika bisnis merupakan etika terapan yang dapat mengontrol pengaturan etika dan moral yang ada dalam perusahaan. Terdapat fakta bahwa konsumen bersedia untuk tidak membeli barang/jasa tertentu karena kondisi produksi yang eksploitatif dan bersedia untuk membeli barang/jasa yang lebih mahal demi menghormati prinsip etika merupakan salah satu dorongan mengapa perusahaan bisnis harus menerapkan prinsip etika. Konsumen saat ini, menyadari bahwa perusahaan yang eksploitatif dapat merendahkan atau melawan hak-hak asasi manusia. Dari etika bisnis yang memiliki peran penting dalam suatu perusahaan maka dapat membentuk perusahaan yang kokoh, memiliki daya saing tinggi, serta memiliki nilai (values) yang tinggi. Kasali, et al., pada tahun 2010 memberikan beberapa poin yang dapat diperhatikan untuk menjadikan suatu bisnis bisa dikatakan etis, yaitu:
  1. Berperilaku Jujur
Dalam lingkup bisnis, berperilaku jujur menyelimuti seluruh dimensi prose usaha. Komponen dalam berperilaku jujur ini juga dapat berupa transparansi produk atau jasa kepada para konsumen, mematuhi segala peraturan yang ditetapkan, dan menyamaratakan kualitas yang diberikan dengan kualitas yang diiklankan.
  1. Mematuhi Tata Nilai
Pada dasarnya suatu usaha atau perusahaan memiliki nilai yang menjadi pondasi mereka untuk menjalankan bisnisnya. Tidak hanya itu, suatu perusahaan perlu mempertimbangkan nilai yang berkembang di masyarakat agar apa yang dilakukan oleh perusahaan tidak melenceng dari apa yang telah ditetapkan masyarakat. Nilai-nilai yang dapat dipenuhi di antaranya adalah berusaha untuk saling menguntungkan, saling menghargai dan menghormati, transparan, dll.
  1. Konsisten
Suatu usaha dalam prosesnya akan melakukan pengiklanan dalam berbagai macam bentuk untuk memasarkan produk atau jasanya secara luas. Usaha tersebut perlu konsisten untuk menyelaraskan apa yang diiklankan dengan apa yang sebenarnya dipasarkan.   Penyimpangan Etika Bisnis dalam Monopoli Kargo Maskapai Penerbangan Salah satu contoh yang menunjukkan kegiatan menyimpang dari etika bisnis dalam bidang kargo maskapai penerbangan adalah kasus dari Lion Air Group yaitu PT Lion Mentari, PT Batik Air, dan PT Lion Express yang telah melakukan diskriminasi dalam bentuk kerja sama penjualan kapasitas kargo untuk jasa pengangkutan barang di berbagai bandara yaitu Bandara Halim Perdana Kusuma, Bandara Kualanamu, Bandara Juanda, serta Bandara hang Nadim ke Bandara Soekarno Hatta. Kasus ini berawal pada jangka waktu bulan Juli hingga September tahun 2018 di Bandara Hang Nadim Batam dengan adanya penumpukan kargo barang dan pos. Di dalam perjanjian antara PT Lion Mentari, PT Batik Air Indonesia, dan PT Wings Abadi dan PT Lion Air Express, Ditemukan oleh KPPU bahwa terdapat hak istimewa yang diberikan kepada PT Lion Air Express untuk menggunakan kapasitas kargo sebesar 40 ton per harinya untuk keempat rute penerbangan yang sudah disepakati. Hasil dari tindakan tersebut terbukti membuat para agen kargo lain merasa sulit atas pengiriman barang, akan tetapi tindakan diskriminasi ini tidak berjalan efektif karena agen-agen ini justru pindah ke maskapai penerbangan lain. Atas berbagai bukti yang ada dalam kasus ini, Majelis Komisi KPPU memutuskan bahwa ketiga perusahaan ini telah terbukti melakukan pelanggaran terhadap Undang-undang No. 5 Tahun 1999 Pasal 19 huruf d tentang Larangan praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Dalam hal ini, PT Wings Air tidak termasuk sebagai pihak yang melanggar peraturan perundang-undangan karena tidak memiliki rute penerbangan yang ada di dalam bukti kasus ini. Selain itu, Majelis Komisi juga mengenakan denda terhadap setiap ketiga perusahaan ini sebesar Rp1.000.000.000,- (satu miliar rupiah). Namun dikarenakan adanya pertimbangan Pandemi Covid-19 dan perjanjian yang telah dihentikan oleh ketiga perusahaan, maka ketiga perusahaan ini tidak perlu membayar denda yang telah diputuskan kecuali jika dalam kurun waktu satu tahun ketiga perusahaan ini melakukan lagi pelanggaran terhadap Undang-undang No. 5 Tahun 1999 Pasal 19 huruf d. Dari pembahasan kasus Lion Air yang telah dilakukan terdapat beberapa unsur Etika Bisnis yang dilanggar dalam praktik bisnis Lion Air, yaitu kejujuran, keadilan, dan tolong menolong. Unsur kejujuran di sini dilanggar dalam konteks melakukan kerja sama kepada beberapa pihak dalam bentuk kegiatan yang menginisiasikan praktik monopoli. Tidak hanya itu, terkait dengan monopoli, pelanggaran atas UU No. 5 Tahun 1999 menjadi bentuk ketidakjujuran dengan tidak mematuhi peraturan yang telah ditetapkan. Gambaran dari pelanggaran unsur keadilan dalam kasus Lion Air ini adalah dengan tindakan mencoba mencari keuntungan dengan merugikan orang lain. Pihak yang dirugikan di sini adalah para pesaing dan konsumen. Dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 telah diatur mengenai larangan praktik monopoli dalam kegiatan persaingan usaha. Larangan atas praktik monopoli tersebut adalah upaya dalam perlindungan para konsumen dengan subjek tertuju adalah para pelaku usaha.   Kesimpulan Berdasarkan contoh kasus diatas, dapat dilihat betapa pentingnya penerapan etika bisnis untuk meminimalisir terjadinya kecurangan dalam praktik, salah satunya monopoli. Kegiatan sebuah perusahan tidak boleh merugikan orang lain, mulai dari pesaing hingga konsumen, terlebih lagi hanya untuk mengejar keunggulan semata. Kejujuran merupakan aspek yang sangat penting untuk di implementasi dalam praktik bisnis agar mendapatkan kepercayaan dari para stakeholders. Sebuah perusahaan dapat menanamkan dan menerapkan secara jelas nilai etika bisnis yang dipegang oleh perusahaan tersebut. Hal tersebut dapat dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya tindakan melanggar hukum baik oleh perusahaan atau pun oknum dalam perusahaan itu sendiri.

Editor: Dewan Redaksi

Tags

Terkini

Badan Usaha Tetap Tanpa Kehadiran Fisik Kena Pajak?

Jumat, 9 Desember 2022 | 06:56 WIB

Reformasi Perpajakan untuk Kemandirian APBN

Rabu, 7 Desember 2022 | 19:54 WIB

Babak Baru Restorasi Alam: Pajak Karbon?

Selasa, 6 Desember 2022 | 21:01 WIB

Perencanaan dan Pengorganisasian Pesan-pesan Bisnis

Selasa, 1 November 2022 | 17:55 WIB

Pentingnya Perilaku Asertif di Lingkungan Organisasi

Selasa, 1 November 2022 | 14:35 WIB

Kondisi Keuangan Pasca Pandemi-19

Kamis, 2 Juni 2022 | 09:58 WIB

Catatan untuk Umrah Jamaah Indonesia Kini

Senin, 28 Februari 2022 | 17:43 WIB
X