• Jumat, 2 Desember 2022

Setya Novanto Tersangka: Siapa Berpeluang Pimpin Golkar ?

- Selasa, 18 Juli 2017 | 14:11 WIB
Oleh : Muchlis Ainurrofik Setya Novanto akhirnya resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi E-KTP. Selain sebagai Ketua DPR, Setya Novanto adalah Ketua Umum Golkar. Posisi Ketua DPR, mengikuti pernyataan Fadli Zon di media, adalah hak Golkar. Maka, pertanyaan penting publik setelah penetapan tersangka SN, siapa yang berpeluang memimpin Golkar? Ini juga pertanyaan penting yang ditunggu jawabannya oleh seluruh pimpinan daerah Golkar, yang saat ini sedang sibuk mempersiapkan diri bertarung di berbagai pilkada 2018, dan lalu Pileg dan Pilpres 2019. Nama-nama yang harus kita pertimbangkan berpeluang menggantikan Setya Novanto, setidaknya bisa dilihat dari konstelasi pertarungan internal Golkar. Baik pada saat Mukernas di Bali, maupun peristiwa-peristiwa politik yang mengikutinya. Pesaing utama Setya Novanto di internal Golkar tentu saja Ade Komarudin. Akom, panggilan akrab Ade, sempat mengisi jabatan Ketua DPR, saat Setya Novanto diterpa isu papa minta saham. Akom akhirnya tergeser lagi dari kursi ketua dewan, setelah SN berhasil bermanuver mendekat ke Jokowi, dan mengambil alih kembali kursi Ketua DPR. Ade Komarudin bisa dibaca juga mewakili kubu HMI dan KAHMI di dalam Golkar. Di kubu ini ada tokoh sesepuh Golkar, Akbar Tanjung. Meskipun nama Ade Komarudin juga disebut dalam dugaan aliran korupsi E-KTP, faktor HMI dan KAHMI ini tetap menjadi modal kekuatan Ade Komarudin menjadi Ketua Umum. Nama kedua yang patut dipertimbangkan adalah Airlangga Hartarto. Airlangga Hartarto saat ini Menteri Perindustrian di Kabinet Presiden Jokowi. Pada Mukernas Bali, Airlangga Hartarto muncul sebagai salah satu kuda hitam. Meski kalah di putaran pertama, kubu Airlangga layak dipertimbangkan, karena secara jeli akhirnya merapat ke kubu Setya Novanto, dan akhirnya kubu ini yang memenangkan pertarungan. Artinya, dalam perebutan kursi ketua umum melawan kubu Ade Komarudin, Airlangga punya modal kuat: dukungan kubu Setya Novanto. Kubu incumbent ini pasti akan merasa lebih aman mendukung Airlangga, ketimbang harus menerima Ade Komarudin. Dalam arena Mukernas Bali juga muncul nama Sahrul Yasin Limpo. Tapi nama ini sudah bukan faktor, karena setelah kalah di Bali, yang bersangkutan memilih keluar Golkar dan bergabung ke Nasdem. Yang patut juga jadi bahan pertimbangan membaca peta kekuatan internal Golkar tentu saja faktor Jusuf Kalla. Sebagai sesepuh Golkar yang sekarang dalam posisi Wakil Presiden, Jusuf Kalla pasti tidak akan tinggal diam dalam pertarungan merebut kursi ketua umum. Nama Erwin Aksa sempat disebut-sebut mewakili klan keluarga Jusuf Kalla. Untuk menjadi ketua umum, mungkin nama Erwin Aksa masih cukup muda. Lagi pula, nama Erwin yang ikut berkibar bersama kubu Anies Baswedan di pilkada Jakarta, pasti akan mengundang resistensi dari kubu pro Ahok di dalam Golkar.  Dengan peta seperti di atas, siapa yang akan memenangkan pertarungan merebut kursi ketua umum Golkar, akan ditentukan oleh tingkat dukungan masing-masing nama.  Melihat peta perkembangan terakhir, siapapun yang memenangkan pertarungan, pasti tidak lepas dari koalisi. Kalau kubu Airlangga, yang di Bali sudah merapat mendukung Setya Novanto, sekarang mampu mengajak koalisi kubu Erwin Aksa (klan Jusuf Kalla), besar kemungkinan dia lah yang akan memenangkan pertarungan. ***Muchlis Ainur Rofik, Wartawan Senior.

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Perencanaan dan Pengorganisasian Pesan-pesan Bisnis

Selasa, 1 November 2022 | 17:55 WIB

Pentingnya Perilaku Asertif di Lingkungan Organisasi

Selasa, 1 November 2022 | 14:35 WIB

Kondisi Keuangan Pasca Pandemi-19

Kamis, 2 Juni 2022 | 09:58 WIB

Catatan untuk Umrah Jamaah Indonesia Kini

Senin, 28 Februari 2022 | 17:43 WIB

Kecerdasan Anies Baswedan Memimpin DKI Jakarta

Jumat, 24 Desember 2021 | 13:56 WIB

Luhut Binsar Panjaitan: Bagaimana Ia Memimpin?

Kamis, 23 Desember 2021 | 22:34 WIB

Tri Rismaharini, Sosok Pemimpin Tegas yang Inspiratif

Kamis, 23 Desember 2021 | 14:18 WIB
X