• Senin, 5 Desember 2022

Terimakasih Joice Warouw

- Kamis, 13 Juli 2017 | 22:55 WIB

Oleh: Natsir Said

Joice Onsay Warouw mungkin telah menerima hukuman sosial. Kita telah 'menghabisinya' secara sadis pada hampir seluruh media sosial. Menghujat dan mencela sebagai bentuk penolakan atas arogansinya sebagai istri Jenderal (Purn). Sejujurnya, saya pun melakukan itu. Selama beberapa hari membatin, suami yang Jenderal tapi istri yang sok kuasa.

Hari ini, kudapati seorang kawan bercerita. Secara eksplisit ada rasa bangga, sebab ia begitu dekat dengan pejabat di daerah ini. Sekilas biasa saja, sebab kita pun kadang menjadi bangga jika dekat dengan pejabat. Memposting foto bersama orang besar di media sosial pun tidak jarang memunculkan arogansi tersendiri. Bayangkan saja, hanya berfoto saja kita ketularan rasa angkuh. Ini bukti bahwa aura kekuasaan terlalu kuat. Saking kuatnya hingga kita, juga seorang Joice tak mampu menahan auranya.

Tetiba saya menjadi mafhum. Joice hanyalah pribadi yang tidak dapat menahan derasnya rasa bangga dekat dengan kekuasaan. Ia menjadi perwakilan atas karakter sosial mayoritas manusia. Apalagi kita, dengan trauma penjajahan kolonialisme yang menempatkan kekuasaan sebagai alat untuk menjajah masih mengakar.

Tamparan Joice sebenarnya berlaku di tiap hari dalam interaksi sosial kita. Bahkan dalam skala yang lebih sadis oleh pemegang kuasa atas yang lebih lemah terus terjadi. Seorang pejabat yang hendak pulang ke rumah dikawal ketat voorrijder, meminggir paksakan pengendara lain secara substansi adalah tamparan sadis dalam bentuk lain oleh pemegang kuasa. Bahkan dalam event yang mengusung tema kerakyatan sekalipun, penyelenggara justru menempatkan penguasa di kursi depan paling empuk, sementara rakyat cukuplah berdiri di pinggir pagar. Sekelas resepsi nikahan, menghadirkan banyak pejabat teras seolah menjadi penegasan status sosial pemilik pesta.

Joice hanyalah bagian kecil dari wajah budaya sosial ex kolonialisme yang berabad. Meninggalkan paradigma lucu saat memandang kekuasaan. Menjadikan pemerintah yang secara substansi sebagai pelayan, berubah menjadi raja dan menuntut untuk dilayani.

Sekali lagi, Joice telah membuka mata nurani semua kita yang ikut menghujat. Dan hari ini, pada sudut pandang yang lain, saya haturkan rasa terima kasihku padamu.

***Palu, 10 Juli 2017

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Perencanaan dan Pengorganisasian Pesan-pesan Bisnis

Selasa, 1 November 2022 | 17:55 WIB

Pentingnya Perilaku Asertif di Lingkungan Organisasi

Selasa, 1 November 2022 | 14:35 WIB

Kondisi Keuangan Pasca Pandemi-19

Kamis, 2 Juni 2022 | 09:58 WIB

Catatan untuk Umrah Jamaah Indonesia Kini

Senin, 28 Februari 2022 | 17:43 WIB

Kecerdasan Anies Baswedan Memimpin DKI Jakarta

Jumat, 24 Desember 2021 | 13:56 WIB

Luhut Binsar Panjaitan: Bagaimana Ia Memimpin?

Kamis, 23 Desember 2021 | 22:34 WIB

Tri Rismaharini, Sosok Pemimpin Tegas yang Inspiratif

Kamis, 23 Desember 2021 | 14:18 WIB
X