Home OPINI Gebyar Budaya dan Pesona Garut, Pesonanya Kemana..??

Gebyar Budaya dan Pesona Garut, Pesonanya Kemana..??

0
SHARE
Janur M Bagus, wartawan Penggiat Kelompok Informasi Masyarakat di Jawa Barat, foto dok

Oleh: Janur M Bagus

Kreatifitas dan inovasi sejatinya harus menjadi ruh dari sebuah perhelatan besar dalam moment yang seharusnya juga cukup sakral sebagai peringatan sejarah kelahiran atau… “titimangsa” Garut muncul, Garut lahir, Garut Tandang Makalangan Ngajagat, Ngalemah Cai nuabadi nepa kiwari…”.

206 tahun perjalan Garut sebagai sebuah kota dari deretan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat, sejatinya syarat dengan muatan keberhasilan, penuh dengan “atikan” dan edukasi bagi generasi-generasi selanjutnya dan bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban bahwa helaran itu asal ada, asal terselenggara tak perduli bernilai jual tinggi atau bernilai pesan moral pas-pasan bagi para pelakunya.

Ini menjadi sangat penting karena sejatinya Hari Jadi Garut (HJG) yang disimbolkan dengan puncak Helaran Peringatan tersebut harus memberikan estapeta pemahaman yang mendasar terkait pentingnya gugusan sejarah dalam perjalanan sebuah daerah seperti Garut salah satunya.

Dikemudian hari generasi kota ini tidak akan banyak bertanya lagi tentang esensi sejarah kotanya termasuk Budaya serta warisan kebudayaan yang ada didalamnya, karena dengan sendiririnya sudah tercermin dan terjawab dalam setiap momen-momen gelaran budaya sebagamana idelanya ada, dan harus ada disetiap gerak-gerik yang terangkum dalam setiap helaran budaya tersebut.

Baca Juga  Pertarungan Berdarah Pilgub Jabar

Sebut saja Gebyar Budaya Pesona Garut (GBPG) yang baru saja sebagian masyarakat saksikan, hingar bingarnya tidak lebih dari sebuah acara biasa yang biasa biasa saja. Meski mungkin ini hanya kacamata subjektif orang menilai. Akan tetapi terlepas dari subjektifitas penilaian tersebut, seyogyanya GBPG menjadi wajah kemajuan peradaban warga Garut dari masa-kemasa bukan hanya sebuah pertunjukan yang ujungnya malah menjadi gunjingan kelompok-klompok warga yang seharusnya menjadi subjek dan objek kegiatan itu semua.

Seharusnya GBPG memang menjadi milik warga Garut yang membanggakan sebagai kemajuan inovasi dan kreatifitas bukan kemajuan semu yang diklaim sebagia acara terbesar dan terheboh yang mempesona tetapi pesonanya hilang entah kemana…

Faktanya gaung event yang seharusnya menjadi wajah Garut dimata nasional dan Internasional tersebut baru sebatas tercatat sebagai salah satu kelender event nasional dalam catatan kementrian Pariwisata, meski kontennya sama sekali belum memberikan efek kejut yang memukau apalagi menjadi magnet daya tarik kunjungan wisiata, karena di kalangan warga Garut sendiri yang tinggal di Garut, GBPG belum menjadi bagian persepsi positif yang bisa dibanggakan, apalagi bagi warga Garut dan masyarakt Indonesia di belahan wilayah lainnya, agak pesimis dapat mempersepsi event ini sebagai wajah Garut yang utuh yang prestatif dan amazing.

Baca Juga  Deddy Mizwar Merapat PDIP ? 

Orang nomor satu di Garut yang juga sebagai pemegang Garis kebijakan kemajuan pembangunan yakni Bupati Garut, malah menunjukan kekecewaanya bahwa HJG dengan GBPG-nya diakui sangat lemah dan belum mampu menerjemahkan visi misi serta landasan politiknya.

“Lemah lah lemah, HJG itu (gebyar acaranya) lemah, tidak banyak yang sesuai harapan,” kata Bupati Rudy Gunawan kepada wartawan usai memimpin apel gabungan di lapangan setda, Senin (8/4/2019) sumber cakrawala.co.

Tentu saja pernyataan seorang Bupati bisa jadi menjadi refresentasi sebagian besar warga masyarakat Kabupaten Garut yang seharusnya dapat menikmati dan merasakan aura serta pesona dari GBPG itu, karena sejatinya mereka menjadi bagian penting dalam persepsi positif kehadiran GBPG tersebut. Namun apa yang terjadi seperti itulah adanya, sejumlah kelompok seniman dan budayan balik mencibir, malah ironisnya menjadi ada jurang pemisah yang mengangah diantara para awak media yang mendadak tersinggung dengan penyelenggara heleran tersebut lantaran miskomunikasi yang dibangun oleh para pelaksana acara dilapangan.

Baca Juga  Polwan Polres Purwakarta Tidak Ketinggalan Sambut Hari Kartini 2017

Lengkap sudah gebyar Budaya Pesona Garut yang gebyarnya terasa meredup dan pesonanya tidak tersisa dilayar kaca apalagi dilayar hati warga yang cenderung tidak terbawa larut dalam ruh penyelenggaraan event tersebut.

Mungkin ada beberapa hal yang harus diperbaiki yang pertama evaluasi kembali apa yang menjadi ruh dari vent tersebut untuk apa dan targetanya?…Butuh strategi komunikasi yang baik dalam membangun opini dan persepsi warga terkait tujuan mulia dari event tahunan ini…Butuh keterlibatan para inovator dan kreator yang mampu dan menguasai ruh pertunjukan sehingga benar-benar menghasilkan model pertunjukan yang interaktif dan komunikatif agar dapat dinikmati hasilnya.

Selebihnya fungsikan institusi atau leading sektor terkait mutlak sebagai operator dan bukan event organaizer agar tidak salah kiprah dan salah kaprah…Mari kita jemput kembali Pesona Garut agar tidak larut dalam carut marut karena salah urus salah tata kelola…

Salam…!!

***Penulis adalah Jurnalis dan Penggiat Kelompok Informasi Masyarakat

 

Bagaimana menurut Anda ?

komentar