• Selasa, 29 November 2022

Petani Sawit Lamandau Mulai Rasakan Dampak Penutupan Pabrik Pengolahan

- Senin, 24 Juli 2017 | 21:15 WIB

LAMANDAU KALTENG CAKRAWALA.CO ,- Pasca dilakukannya penyegelan atau pemasangan garis polisi (police line) terhadap dua pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) milik PT. Khatulistiwa Sinergi Omnidaya (KSO) dan PT. Sumber Adinusa Lestari (SAL) di Desa Kujan, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, oleh Polda Kalteng, sebagian besar petani sawit setempat mulai meradang.

Para petani dan pekerja perkebunan sawit mula mengeluhkan kehilangan mata pencaharian karena pabrik berhenti beroprasi. Mereka meminta agar kedua pabrik tersebut segera dapat beroperasi kembali seperti biasanya.

GMA Badrun, salah satu petani sawit yang juga tokoh masyarakat Desa Kujan, saat ditemui cakrawala.co menyampaikan keluhan warga petani setempat.

"Kami selaku petani kelapa sawit sangat merasakan dampak yang cukup besar akibat dihentikannya operasional kedua pabrik ini,"Kata Badurun, Senin (24/7/2017).

Badrun yang juga menjabat Ketua Badan Pemberdayaan Desa (BPD) Desa Kujan menyebutkan dari segi ekonomi, adanya dua pabrik di Kujan itu sangatlah berperan besar terhadap kondisi perekonomian petani kelapa sawit non plasma khususnya petani skala kecil yang ada di Kabupaten Lamandau

"Saat ini di Lamandau saja ada sekitar 30 sampai dengan 40 ribu hektar lahan kebun kepala sawit non plasma milik masyarakat dengan hasil panen sekitar 1000 ton perharinya, dan selama ini dijual kedua PKS itu," ungkapnya.

Badrum menambahkan kedua perusahaan PKS tersebu sangat berperan, karena harga jual TBS (Tandan Buah Segar) di dua pabrik tersebut selalu menyesuaikan pasar internasional serta sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

"Sekarang ini (pasca di police line Polda), secara praktis kita merasa sangat kebingungan harus menjual buah (TBS) ini kemana. Karena di pabrik lain, kita menjual harus melalui pihak ketiga, dan prosesnyapun lama, gradingnya tinggi, petani kecil yang hanya mampu panen satu pick up saja tidak bisa dilayani, jika tetap dijual (ke pabrik lain yang punya kebun inti) secara otomatis petani hanya dapat capeknya," tutur Badrun.

Dengan kondisi tersebut Badrun memastikan bahwa dalam waktu dekat dirinya beserta petani sawit lainnya akan segera mengirimkan surat permohonan yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait diantaranya Kapolda Kalteng, Gubernur Kalteng, Bupati Lamandau, DPRD Lamandau dan Polres Lamandau.

"Nantinya surat itu berisi permohonan dengan harapan pihak-pihak terkait dapat merestui dioperasikannya kembali dua PKS di Kujan. Ini murni semata-mata karena pertimbangan nasib petani kecil kita dikabupaten Lamandau ini," paparnya.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X