Paguyuban Pengusaha Pertashop Jateng DIY Desak Penyaluran Pertalite Tepat Sasaran

- Senin, 23 Januari 2023 | 17:55 WIB
Musyawarah Kesatu Paguyuban Pengusaha Pertashop Jawa Tengah  DIY, di Semarang   (Arifin Arif)
Musyawarah Kesatu Paguyuban Pengusaha Pertashop Jawa Tengah DIY, di Semarang (Arifin Arif)

SEMARANG, CAKRAWALA.CO, Paguyuban Pengusaha Pertashop Jawa Tengah DIY mendesak agar Pemerintah segera mengeluarkan Perpres mengenai Subsidi Tepat atau pembatasan penggunaan BBM bersubsidi jenis pertalite. Hal ini dimaksudkan agar BBM bersubsidi tepat sasaran dan penjualan BBM non subsidi khususnya pertamax bisa bersaing di pasaran.

Demikian salah satu rekomendasi dari Musyawarah Kesatu Paguyuban Pengusaha Pertashop Jawa Tengah DIY di hotel Grasia, Semarang, Minggu (22/1/2023).

Ketua Paguyuban Pengusaha Pertashop Jawa Tengah DIY, Budi Sadewo menyatakan setelah diberlakukannya Perpres mengenai pembatasan BBM bersubsidi jenis solar, diharapkan segera diberlakukan juga pembatasan untuk BBM bersubsidi jenis pertalite. Perpres tersebut diharapkan bisa menjadi pedoman tata kelola penyaluran BBM bersubsidi jenis pertalite dan payung hukum bagi aparat penegak hukum saat melakukan penindakan terhadap praktek penyalagunaan penggunaan BBM bersubsidi jenis pertalite.

“Longgarnya penyaluran pertalite berdampak kepada mitra resmi pertamina, yakni pertashop. Pertashop adalah program pemerintah dengan tujuan masyarakat bisa menikmati pemerataan BBM berkualitas, ramah lingkungan, tanpa jauh jauh pergi ke SPBU. Kami juga melaksanakan program pemerintah untuk BBM satu harga. Kami berharap agar penyaluran pertalite dibatasi dan pengawasan ditingkatkan”, kata Budi Sadewo.

Lebih lanjut Budi Sadewo menyatakan akibat disparitas harga antara pertalite dengan pertamax cukup tinggi, permintaan pertamax di pasaran sempat lesu. Harga pertamax sempat mengalami harga tertinggi, yaitu mencapai Rp. 14.500,-, sementara pertalite dijual dengan harga Rp. 10.000,- per liter. Karena tidak mampu menutup biaya produksi, hampir 100 pertashop di Jawa Tengah dan DIY tutup.

Petugas pertashop melayani pelamggan (Arifin Arif)

“Tapi alhamdulillah, setelah pemerintah menurunkan harga pertamax sebanyak 2 kali, yaitu menjadi Rp. 13.900, - dan Rp. 12.800,-, berangsur-angsur kegiatan usaha penjualan pertamax melalui unit pertashop mulai menggeliat. Omset penjualan meningkat berkisar antara 10 hingga 20 persen. Namun demikian masih ada rekan rekan anggota paguyuban yang omsetnya dibawah 100 liter perhari, sehingga secara bisnis ini tidak sehat”, kata Budi.

Budi Sadewo menambahkan, “Diharapkan harga minyak dunia kembali turun, sehingga harga pertamax bisa disesuaikan harganya”, pinta Budi.

Koordinator Paguyuban Pengusaha Pertashop Wilayah ex Karesidenan Pati, Jengkar Tundung JP, menambahkan selain disparitas harga, penyebab turunnya omset penjualan pertamax ini akibat pengunaan pertalite tidak tepat sasaran.

Halaman:

Editor: Arifin Arif

Terkini

X