Kebaya Diusulkan Negara Tetangga ke UNESCO, Pemerintah Perlu Jelaskan Patron Kebaya Indonesia

- Jumat, 9 Desember 2022 | 07:14 WIB
perempuan Indonesia mengenakan pakaian kebaya (foto : ist)
perempuan Indonesia mengenakan pakaian kebaya (foto : ist)

SURABAYA, CAKRAWALA.CO - Rencana usulan kebaya sebagai salah satu warisan tak benda UNESCO oleh Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand menuai kontroversi. Isu tersebut ditanggapi langsung oleh Menparekraf RI Sandiaga Uno yang menegaskan bahwa kebaya adalah budaya luhur milik bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga secara resmi memutuskan untuk mendaftarkan kebaya melalui jalur single nomination.

Dosen program studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair) Moordiati SS MHum angkat suara soal itu. Ia berpendapat bahwa keputusan pemerintah untuk mendaftarkan kebaya melalui jalur single nomination adalah keputusan yang tepat. Hanya saja, pemerintah perlu menjelaskan kembali bagaimana patron kebaya Indonesia untuk meluruskan kontroversi tersebut.

Tidak Ada Kekhasan Berpakaian di Asia Tenggara
“Kalau kita membaca secara general tulisan Anthony Reid yang berjudul Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, sebenarnya masyarakat Asia Tenggara itu sama, tidak punya kekhususan ataupun keunikan dalam cara berpakaian,” jelas Moordiati.

“Tapi ketika Barat masuk, mereka hidup bersama dan berpakaian ala Barat. Kemudian, ada iktikad baik dari masyarakat Indonesia untuk memakai pakaian yang mencerminkan locality. Dari sanalah, masyarakat Indonesia menampilkan pakaian-pakaian khasnya,” tambahnya.

Baca Juga: Masih Hangat Kejadian Bom Bunuh Diri di Kantor Polisi, Umar Patek dikeluarkan dari Lapas Kelas I Surabaya

Moordiati menuturkan, negara-negara di Asia Tenggara memang mengenal dan memiliki kebaya, tetapi kebaya Indonesia dengan kebaya-kebaya di Asia Tenggara lainnya jelas memiliki karakteristik yang berbeda.

Dalam hal ini, kebaya menurut pandangan masyarakat Indonesia adalah kebaya yang dipakai ketika rezim pemerintahan Soeharto. Tidak ada representasi atau identifikasi keislaman yang bertujuan untuk menutup aurat seperti kebaya orang muslim di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Dosen program studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unai,r Moordiati SS MHum

“Kegaduhan ini harus diluruskan dengan cara menjelaskan secara jelas patron yang disebut kebaya itu seperti apa. Jangan digeneralisir karena kita juga mengenal kebaya encim Cina yang itu juga ada di kawasan Malaysia dan Singapura. Artinya, kebaya yang made in Indonesia itu seperti apa, yaitu ada kuduk baru, tidak ada leher shanghai. Pelengkap dari kebaya itu apa, panjangnya berapa. Ini yang harus dijelaskan ketika mengusulkan sebagai warisan UNESCO,” ujar Moodiarti.

Halaman:

Editor: Iswin Arrizal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X