• Sabtu, 10 Desember 2022

Komandan Tukang Sampah TPS Kemiri Ajak Anak Buahnya Dapatkan Perlindungan BPJAMSOSTEK

- Kamis, 24 November 2022 | 22:48 WIB
Semangat : Juari menarik sampah menuju TPS (foto : Wiwid)
Semangat : Juari menarik sampah menuju TPS (foto : Wiwid)

SIDOARJO, CAKRAWALA.CO – Sudah 20 tahun Juari bekerja di sebuah pabrik di kawasan Waru, Sidoarjo. Dan suatu saat warga Desa Kemiri, Sidoarjo itu kehilangan pekerjaannya sehingga membuatnya harus putar otak agar asap dapur keluarganya tetap mengepul.

Baginya, bekerja adalah sebuah upaya yang harus dilakukan untuk bertahan hidup, tidak lebih dari itu. Dan karena tak ada pilihan lain lagi, bapak dua anak inipun melakoni pekerjaan sebagai penarik sampah. Bagaimana tidak, meski usianya sudah lebih dari setengah abad, namun Juari masih harus menjadi tulang punggung keluarganya.

Raut lelah membias di wajahnya saat ditemui di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Margorukun milik Pemerintah Desa Kemiri. Meski begitu senyum ramahnya tetap coba ia kembangkan untuk menutupi rasa lelahnya.

"Capek Mas, habis angkut sampah dari perumahan lalu dibawah ke TPS. Tapi Alhamdullilah jam 9 pagi sudah satu batang (rokok-red) dan menyeruput kopi," jelasnya pada jurnalis cakrawala.co, 24 November 2022.

Baca Juga: Pedagang Aloha Tolak Tawaran Ganti Rugi Rp 5 Juta dari Pemkab Sidoarjo

Diceritakannya, ia memulai pekerjaannya sejak turun sholat subuh dan baru selesai sekitar jam 8 atau 9 pagi. Kemudian dilanjutkan sore di lokasi berbeda untuk mengambil sampah dari depan rumah-rumah warga. Tiap beberapa hari sekali, sampah-sampah rumah tangga yang dikumpulkannya itu diangkut truk ke TPA Jabon, Sidoarjo.

"Di Desa Kemiri ini, saya mengambil sampah di Perumahan Graha Kuncara, ada tiga RT. Selain itu juga di 10 rumah milik warga kampung," ungkapnya. Dari tiap-tiap RT itu, Juari mendapat upah antara Rp 1 juta sampai Rp 1,2 juta. Jadi per bulannya ia bisa mengantongi uang rata-rata Rp 3,5 juta.

Di TPS Margorukun sendiri ada 21 orang yang terdata menjadi tenaga pengambil sampah rumah tangga di sekitar Desa Kemiri dan sebagian kecil di luar desa itu. Rekan-rekan seprofesinya itulah yang menunjuk Juari sebagai Ketua, lalu tercetuslah panggilan akrab ‘Komandan’ baginya.

Juari sadar pekerjaan yang ia lakoni bersama teman-temannya itu penuh dengan resiko. Ia mengaku sering mendengar dan menolong teman yang mengalami kecelakaan saat bekerja. "Karena itu saya dan teman-teman membutuhkan perlindungan atas resiko pekerjaan,” katanya.

Komandan Juari duduk santai bersama rekan sejawat sembari menunggu jam pulang ke rumah (foto : Wiwid)

Halaman:

Editor: Iswin Arrizal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X