• Jumat, 2 Desember 2022

Rencana Pembangunan Islamic Center Gresik Menuai Protes

- Senin, 10 Juli 2017 | 15:07 WIB

GRESIK, CAKRAWALA.CO – Rencana Pemerintah Kabupaten Gresik untuk membangun Islamic Center di Alun-alun kota Gresik mendapat tentangan masyarakat. Salah satunya dari Pengurus Anak Cabang Gerakan Pemuda (PAC GP) Ansor Kecamatan Kota Gresik. Bahkan, tak tanggung-tanggung, mereka memasang sejumlah spanduk penolakan rencana pembangunan kawasan religi tersebut.

Ketua PAC GP Ansor Kota Gresik, Fathoni mengatakan hasil rapat pengurus harian lembaga yang dipimpinnya menolak rencana pembangunan Islamic Center tersebut. Bahkan, penolakan tersebut juga diikuti oleh Majlis Mudarosah Masjid Jamik serta Takmir Masjid Jamik Gresik yang tergabung dalam Forum Peduli Gresik.

“Itu merupakan keputusan rapat pengurus harian yang kemudian diikuti Majelis Mudarosah serta Takmir Masjid Jamik Gresik karena Alun-alun Gresik merupakan kawasan cagar budaya yang menjadi identitas masyarakat Gresik, ujarnya, Senin (10/7/2017).

Spanduk penolakan PAC GP Ansor Gresik yang terpasang di sejumlah titik di sekitar alun-alun Gresik juga mendapat dukungan Krisaji AW, salah seorang budayawan Kabupaten Gresik. Menurutnya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 tahun 2011 tentang cagar budaya, alun-alun merupakan kawasan cagar budaya yang menjadi identitas sebuah kabupaten, sehingga tidak diperkenankan menghilangkan identitas tersebut. “Jika dibangun Islamic Center, maka nama alun-alun akan hilang dan berganti menjadi Islamic Center,” jelasnya.

Budayawan yang juga Ketua Umum Yayasan Mataseger Gresik yang bergerak di bidang kebudayaan dan sosial kemasyarakatan tersebut menambahkan, ciri khas setiap alun-alun pasti berbentuk segi empat, disebelah baratnya biasanya ada Masjid, sebelah selatannya ada Pendopo Bupati dan sebelah utaranya ada pasar. “Alun-alun Gresik sudah memenhi kriteria sebagai kawasan cagar budaya yang wajib dijaga keasliannya,” tambahnya.

Disamping itu, sambung Krisaji, alun-alun adalah milik masyarakat umum tanpa memandang agama. Jika dibangun Islamic Center, maka seolah-olah menjadi milik umat Islam saja.

Prototype pembangunan Islamic Center Gresik. Foto (Jawa Pos)

Menanggapi penolakan sebagian masyarakat tersebut, Ketua Komisi III DPRD Gresik, Moh Syafi AM mengaku heran dengan penolakan tersebut, karena perencanaan serta sosialisasi sudah dilakukan cukup lama. Apalagi, lelang proyek senilai Rp 28 Miliar tersebut juga selesai.

“Kenapa baru sekarang menolak? Sosialisasi pembangunan Islamic Center sudah lama. Bahkan, semua tahapan pun sudah selesai dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Apalagi, pembangunan Islamic Center menjadi salah satu visi misi Bupati saat kampanye paemilihan Bupati tahun lalu,” ungkap politisi PKB tersebut.

Untuk diketahui, tahun 2017 ini Pemkab Gresik berencana merevitalisasi alun-alun Gresik. Salah satunya dengan membangun Islamic Center. Di bagian tengah alun-alun bakal berdiri bangunan dua lantai berbentuk bulat dengan atap berbentuk limas segi enam. Sebelah bangunan utama tetap difungsikan sebagai kawasan hijau, mulai taman, air mancur, hingga sejumlah fasilitas lain.

Di sekeliling alun-alun bakal dibangun jalur pedestrian dengan konsep dua lantai. Setiap sudut atap jalur pedestrian bakal terkoneksi dengan bangunan utama di tengah alun-alun. Tak hanya itu, area pedestrian lantai 2 di sisi barat alun-alun bakal terhubung langsung dengan Masjid Jamik. Bentuknya berupa flyover yang melintang di Jalan KH Wahid Hasyim. *** ZEN

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Marah Tidak Selesaikan Masalah

Rabu, 7 Oktober 2020 | 09:03 WIB
X