Home INTERNASIONAL Bali Perlu Bandara Internasional Baru di Wilayah Utara

Bali Perlu Bandara Internasional Baru di Wilayah Utara

0
SHARE
Bali Perlu Bandara Internasional Baru di Wilayah Utara - image  on https://www.cakrawala.co

JAKARTA, CAKRAWALA.CO – Pusat Penelitian dan Pengembangan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menilai angka penggunaan Bandara Ngurah Rai, Bali, saat ini sudah melebihi ambang batas sehingga dapat menimbulkan kesan buruk di mata para pendatang. Oleh karena itu Bali memerlukan adanya bandara baru dengan sarana pendukung dan fasilitas memadai. 

Saat ini tingkat penggunaan Bandara Ngurah Rai yang berada di Bali Selatan telah mencapai 70%. “Jadi, Pulau Bali memerlukan tambahan bandara internasional baru di wilayah Bali Utara karena Bali Selatan tempat Bandara Ngurah Ray berada saat ini sudah terlampau padat,” terang Peneliti Puslitbang Kemenbudpar, Ika K. Permanasari, di Jakarta, Senin, (04/2/2019).

Baca Juga  Wakil Ketua DPRD Gresik Salut Pengembangan Wisata Pesisir Pangkah Wetan

Menurut hasil penelitiannya, dengan angka penggunaan bandara internasional Ngurah Rai yang sudah melebihi ambang batas, maka pada saat peak time suasananya menjadi over-crowded. Sebagai salah satu pintu masuk ke sebuah daerah, apalagi daerah wisata, tentu saja suasana tersebut menjadi sangat tidak nyaman dan memberikan kesan yang kurang baik khususnya bagi wisatawan.

Ika Permanasari juga menjelaskan bahwa lingkungan di sekitar kawasan Bandara Ngurah Rai sekarang ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk dapat memperlebar atau memperpanjang bandara tersebut. Oleh karena itu dia menyarankan wilayah utara Bali layak menjadi pilihan lokasi pembangunan bandara internasional baru nantinya. 

Ia menambahkan pembangunan bandara baru tersebut perlu dilengkapi dengan sarana dan fasilitas pendukung sesuai standar. “Seperti kereta dan bus pengumpan yang memadai,” tambahnya.

Baca Juga  Serunya Trail Adventure Ala Habangkalang Penyang Karuhei Tatau

Kemenbudpar sudah beberapa kali melakukan kajian dan penelitian tentang Bandara Ngurah Ray. Salah satunya pada tahun 2000, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Kemenbudpar, I Gde Pitana, pernah melakukan penelitian serupa. 

Pitana menyebutkan, daerah Buleleng di Bali Utara sangat tepat menjadi lokasi pembangunan bandara baru. Secara georgrafis, Buleleng diapit laut di kedua sisinya sehingga dari segi keamanan sangat baik untuk melakukan pendaratan pesawat.

Menurut penilaiannya, Buleleng juga lebih bagus dari Singaraja yang sama-sama berada di utara.  Kawasan Buleleng lebih potensial untuk dikembangkan bila sarana infrastrukturnya dibangun secara optimal.  “Singaraja secara teknis saya kira belum siap karena penghubungnya belum sepenuhnya terbangun sehingga terkesan jauh aksesnya kemana-mana,” pungkas Pitana seperti dikutip Antara beberapa waktu lalu. 

Penelitian I Gde Pitana juga menunjukkan bahwa Bali Selatan telah melampaui kapasitasnya sehingga perlu penyeimbang dengan mendistribusikan kapasitas ke daerah lain. “Sudah saatnya mendistribusikan beban Bali Selatan ke wilayah lain di Bali,” tutupnya. (ari)

Bagaimana menurut Anda ?

komentar